Sulit Mencari Buku

Berawal dari mengikuti suami bertugas mengajar di Universitas Jambi pada Mei 2009, akhirnya Yanti Budiyanti berhasil menarik minat anakanak Jambi untuk mencintai dunia tulis-menulis. Awalnya memang terasa berat ketika mereka harus meninggalkan Bogor, kota dimana anak sulungnya, Nisrina Hanifah (17) yang akrab disapa Ninis, mulai terkenal sebagai penulis cilik. “Selain harus meninggalkan banyak teman dekat, sebenarnya saya sedang merintis kegiatan pemberdayaan perempuan bersama teman,“ papar istri dari Dr. Ir. Bambang Hariyadi, MSc., ini mengungkap alasan keberatannya meninggalkan kota hujan itu.

Tiba di Jambi, ternyata fasilitas yang disukai mereka kurang mendukung. Toko buku sangat sedikit, perpustakaan pun sangat jauh dari memuaskan. Toko buku Gramedia saat itu baru berdiri dan buku anakanak masih sangat sedikit. “Kami berusaha mencari semacam Taman Bacaan yang bisa meminjamkan buku-buku bermutu dengan biaya murah seperti Sentra Adituka di Bogor.“ Lama mencari tidak ada, akhirnya justru mereka berpikir untuk meminjamkan koleksi buku yang dipunyai bagi anak-anak sekitar rumah kontrakan. Maka, dibongkarlah koleksi buku, majalah, buklet, jurnal atau apa pun yang masih dalam kardus-kardus, kemudian dirapikan.

Butuh waktu beberapa bulan sampai akhirnya tiga rak buku beserta isinya tuntas terpajang di ruang tamu rumah kontrakan mereka. Selanjutnya, mulailah Yanti mengajak anak-anak dan ibu-ibu tetangga untuk mampir ke rumah. Namun, karena masyarakat sekitar masih menganggap Yanti dan keluarga sebagai pendatang, mereka pun enggan datang. Akhirnya dilakukan pendekatan lain, yaitu memanfaatkan masjid sebagai sarana penghubung. “Kami mengajak seorang ibu muda untuk mengadakan kegiatan di bulan Ramadan bagi anak-anak. Kegiatannya mendongeng 25 kisah nabi yang ditugaskan pada bapak-bapak atau ibu jemaah masjid. Karena banyak bapak ibu yang kurang percaya diri untuk mendongeng, mereka pun datang ke rumah untuk meminjam buku-buku yang relevan. Begitu juga anak-anak, mereka mulai meminjam buku koleksi kami.“

Tumbuhkan Jiwa Berbagi

Saat itu, belum ada yang mendukung kegiatan Yanti, baik program CSR perusahaan maupun pemerintah. Pendanaan kegiatan dari sisa uang dapur plus sumbangan teman-teman Yanti. ‘‘Kami melakukan semua itu karena mimpi ingin menemukan sebanyak mungkin penulis cilik di Jambi. Kami concern dengan anak-anak dan berharap 10 atau sekian tahun ke depan muncul generasi Jambi yang mumpuni dalam menuangkan ide-ide kreatifnya. Berlatih menulis tidak mengharuskan mereka menjadi penulis, tapi terlatih untuk menuangkan ide, pemikiran, dan gagasannya dalam bentuk kata-kata, kalimat yang mudah dimengerti orang lain.“

Seiring waktu, karya anak-anak mulai diperhatikan pihak lain. Pelatihan Penulis Cilik angkatan kedua mengalami peningkatan jumlah peserta. Begitu juga yang mendukungnya. Pada Pelatihan Penulis Cilik Jambi angkatan ketiga, jumlah peserta 132 anak. November 2014 ini, Yanti akan mengadakan pelatihan penulis cilik Jambi angkatan keempat di dua tempat, kota Jambi dan kabupatenTanjung JabungTimur. Yanti juga memfasilitasi anakanak yang senang bercerita lewat gambar. Sejak Februari 2014, Yanti membuka kelas Komikus Cilik dengan mendatangkan guru. Mei 2014, Pertamina EP-Field I Jambi mengajak Rumah Baca Evergreen untuk membuka taman bacaan di di RSUD Raden Mataher Jambi. Pertamina mendukung seluruh pendanaan.

‘‘Saat ini saya sedang mendorong teman-teman, terutama yang muda-muda, sarjana-sarjana yang memiliki jiwa berbagi untuk mengembangkan kegiatan serupa di tempat asal mereka. Misalnya, ada yang berlokasi di Jangkat (8 jam dari Jambi, di atas gunung Masurai), 2 di kabupaten Tebo (6 jam dari Jambi), dan 3 di Jambi. ‘‘Kami butuh banyak buku, terutama buku anak-anak untuk disuplai pada mereka. Di Jambi, ada yang mempersiapkan untuk membuka Rumah Baca Inklusif, yang menyediakan buku bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, utamanya autisme dan buku braille untuk tunanetra.“

Yanti senang melihat anakanak terlibat cukup intens dengan kegiatan Rumah Baca Evergreen. “Ninis menjadi pelatih menulis bila saya berhalangan. Tata (anak keduanya, Tsabitah Aristawati [12] menjadi guru komik dadakan bila guru komik berhalangan. Ninis dan Tata membantu mengedit karya anakanak dan urun rembuk menggali ide cerita. Tata membuat sketsa gambar untuk cerita. Si bungsu, Zi (Ahmad Zaidan [6]), sering kali menjadi teman mengobrol anak-anak sambil menunggu dijemput kembali oleh orangtua masing-masing. Saya berharap, dengan keterlibatan anak-anak akan menumbuhkan jiwa berbagi sejak dini. “

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *